ha minus satu

Perasaan kok jadi berasa campur aduk gini. Antara senang, khawatir, pasrah, lieur dll. Mungkin karena keluargaku rada-rada unik dalam masalah komunikasi, semuanya jadi sedikit beda dengan pernikahan-pernikahan yang aku terlibat sebagai panitianya. Atau mungkin memang berbeda rasanya saat memposisikan diri sebagai panitia dengan saat menjadi mempelai ya?

Besok semua berubah, gak sekedar berubah status, tapi berubah tanggung jawab, berubah domisili, berubah sudut pandang dalam melihat berbagai hal, tidak ada lagi ‘AKU’ tetapi ‘KITA’. Entahlah… ternyata banyak sisi yang baru terpikirkan saat kita masuk pada hari-hari perencanaan pernikahan, tidak simpel yang kita bayangkan saat berpacaran (bagi mereka yang pacaran) atau bertukar biodata (bagi mereka yang memutuskan menikah via ta’aruf). Banyak aspek yang baru terlihat di depan hidung ketika kita menjalani proses itu. Proses memasuki stage selanjutnya dari seri petualangan manusia, m-e-n-i-k-a-h.

Menikah seharusnya memang menjadi sebuah kata yang ajaib, fantastik, berdampak eksponensial. Menikah berarti penyatuan INVENTORY dan RESOURCES untuk menjalani TASK dan MISSION, layaknya sebuah game. Kita tidak lagi menjadi single fighter, tetapi bertempur dan bertarung sebagai sebuah tim. Ego sudah sepantasnya dikerangkeng, nilai agama lah yang lantas menjadi pemandu navigasi kehidupan kita, bukan emosi personal yang merajalela. Aku, mungkin harus bersyukur bisa belajar sebelum waktunya tentang manajemen konflik rumah tangga, meskipun dari sebuah contoh yang salah. Setidaknya, jadi ada semacam rambu peringatan, “awas jangan lewat sini, ada lubang!”.

Kututup postingan ngawur yang kubuat untuk mengurangi nervous ini dengan doa:

Ya Rabb…
kumohon jadikan pernikahan ini ikatan yang menguatkan, bukan belenggu yang melumpuhkan…
jadikan ia oase yang menyegarkan, bukan kubangan lumpur yang mengeruhkan…
jadikan ia lentera yang menunjuk jalan, bukan kegelapan yang membukakan…

Jadikan Engkau satu-satunya tempat kembali untuk setiap masalah yang kami hadapi…
Jauhkan setan ego yang terkutuk menguasai kami, membelenggu kami dalam hasad, prasangka, iri yang memutus silaturahmi…

Ya Rabb… aku orang yang seringkali lupa mendoakan kedua orang tuaku…
Namun sesungguhnya engkau tahu bahwa diri ini tidak pernah lupa untuk mengharap sebaik-baik keadaan bagi mereka ya Rabb…
Jangan biarkan kami lupa akan setiap peluh tangis mereka… setiap pengorbanan yang kadang luput dari perhatian kami…
Ya Rabb, jadikan pernikahan ini menjadi penawar kesedihan mereka, cahaya bagi kegembiraan mereka, menguatkan cinta antara kami semua…

Ya Rabb, jangan biarkan kami lupa bahwa sesungguhnya hanya kuasa-Mu lah yang membuat semua ini terwujud…
Sesungguhnya hanya milikmu lah rasa kasih dan cinta yang mengikat hati kami, orang tua kami, karib kerabat saudara-saudara kami…