Redefinisi Peran Pendidikan Pertahanan bagi NKRI

Redefinisi Peran Pendidikan Pertahanan bagi NKRI

Oleh: Ardian Perdana Putra,

Kandidat Master Kajian Pertahanan dan Strategi UNHAN


Indonesia merupakan kawasan yang strategis, sekaligus rawan. Terletak antara dua benua dan dua samudera, menempatkan Indonesia di titik strategis lalu lintas perdagangan dunia. Negeri kita juga memiliki potensi sumber daya alam melimpah. Namun demikian, hal tersebut merupakan potensi kerawanan bagi Indonesia, karena akan banyak bangsa lain yang berkepentingan kondisi geografis tersebut. Di sisi lain Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan memiliki karakteristik masyarakat yang majemuk. Dengan 13.662 pulau dan ratusan suku beserta kekhasannya, sesungguhnya sangat sulit menyatukan Indonesia dalam suatu sistem kenegaraan yang stabil (Ningsih, 2010).

Melihat fakta diatas, sistem pertahanan yang kuat menjadi prasyarat mutlak stabilitas pembangunan negeri ini. Karena itulah Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) didirikan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Maret 2009. Sebagai institusi pendidikan pasca sarjana pertama dan satu-satunya yang mengkaji secara khusus bidang pertahanan, masa depan kebijakan nasional dalam sektor tersebut akan bertumpu pada keberhasilan UNHAN dalam mencetak lulusan yang berkualitas. Menjelang dua tahun usianya, masih banyak yang perlu dibenahi dari kampus ini dalam mewujudkan harapan diatas. Bukan dalam aspek fasilitas fisik semata, tetapi jauh lebih penting dalam memperjelas visi pendidikan pertahanan yang ingin dicapai.

 

Menjawab Kemajemukan Indonesia

Sudah banyak konsep yang dapat dipelajari dan ditiru dari institusi pendidikan sejenis di berbagai negara, seperti di Amerika Serikat, Pakistan, Malaysia, Inggris, Filipina dan India. Tetapi, karakteristik khas Indonesia dengan segala kemajemukannya, membuat sistem pendidikan pertahanan yang dikembangkan pun memiliki karakteristik yang khas.

Sedikit berteori konspirasi, potensi sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia amat mungkin mengundang intervensi asing yang berkepentingan untuk mencegah Indonesia menjadi negara yang kuat. Keberagaman etnis, orientasi politik dan persepsi keagamaan sangat rentan berkembang menjadi potensi konflik di tengah masyarakat. Hal ini merupakan sasaran empuk aksi provokasi oleh pihak tertentu.

Setidaknya, bahan studi kasus yang tepat akan hal ini adalah isu aliran keagamaan yang akhir-akhir ini mencuat di media. Kasus-kasus aktual seperti aksi penolakan gereja HKBP Ciketing, aksi penolakan Ahmadiyah di Cikeusik dan pembakaran gereja di Temanggung bisa jadi hanyalah puncak gunung es dari kerentanan yang ada ditengah masyarakat. Tidak bisa kita lupakan pula, kerusuhan Ambon, Poso dan Sampit, sedikit-banyak dipengaruhi faktor keagamaan. Belum lagi potensi konflik akibat fanatisme politik, perbedaan adat kebiasaan, kesenjangan ekonomi antar etnis dan aspek keberagaman lainnya. Tantangan ini harus dijawab UNHAN dengan produk kajian yang komprehensif mengenai metode yang pas dalam membangun ketahanan masyarakat dalam mengelola keberagaman tersebut.

 

Revitalisasi Pertahanan Sipil

Jika disodorkan kata ‘Pertahanan Sipil’, penulis yakin masyarakat awam akan langsung mengasosiasikannya dengan korps berseragam hijau serta pentungan yang menjaga poskamling sepanjang waktu, tak terdidik dan miskin, atau singkat kata madesu (masa depan suram). Kentalnya pencitraan yang sempit tentang pertahanan sipil amat kontras dengan gagasan besar dari Sistem Pertahanan Rakyat Semesta yang diamanatkan oleh UU No. 3 Tahun 2002.

Perlu diingat, ancaman pertahanan sudah jauh berubah dari pola tradisional yang militeristik menjadi pola modern yang mengarah pada penetrasi budaya, ekonomi dan teknologi, yang akhirnya mengintervensi politik serta kedaulatan negara. Kunci utama menghadapi ancaman nir-militer tersebut tak lain adalah memperkuat ketahanan masyarakat sipil, yang tentunya membutuhkan cara-cara yang berbeda dari ancaman militer. Peran untuk mengembangkan implementasi konsep tersebut hingga tataran teknis menjadi tugas besar UNHAN kedepan.

 

Solusinya, Orientasi Riset

Hal yang mungkin masih kurang terlihat di UNHAN saat ini adalah semangat untuk menghidupkan lingkungan riset yang produktif. Padahal, jawaban dari semua permasalahan diatas tak lain adalah kemampuan UNHAN untuk berperan sebagai pusat keunggulan akademik (Center of Academic Excellence)
di bidang pertahanan. Keberhasilan utama UNHAN, tidak dapat diukur dari banyaknya lulusan yang dihasilkan setiap tahunnya, tetapi dari seberapa banyak hasil riset yang berkualitas dan dapat diaplikasikan dalam menyempurnakan sistem pertahanan nasional Indonesia. Maka dari itu, sudah sepatutnya UNHAN menyerap sebagian lulusannya ke dalam suatu institusi riset khusus, sehingga tercipta suatu roadmap yang jelas tentang pengembangan sistem pertahanan Indonesia di masa depan.

Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi pribadi dan perenungan penulis atas proses pendidikan yang sedang penulis jalani, serta apa pengaruhnya bagi NKRI puluhan tahun kedepan. Semoga, tulisan ini dapat menjadi wacana positif dalam pengembangan kiprah UNHAN sebagai institusi pencetak SDM analis kebijakan pertahanan dan strategi di Indonesia.

Dirgahayu kampusku, semoga jaya sepanjang masa…

 

BIODATA PENULIS

Nama        : Ardian Perdana Putra

No. KTP    : 09.5404.280883.0092

Pekerjaan    : Mahasiswa pascasarjana UNHAN, Jurnalis Lepas

Alamat KTP    : Kp. Bantar Gedang, Ds. Mekarsari, Kab. Bandung Barat.

Alamat tinggal    : Jln. Kapuk Rawa Gabus Rt 007/011 No.96, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat

Email        : delcardino@yahoo.com (FB & YM)

Blog        : http://ardee.web.id

HP        : 022 92456409 / 021 41197717

Rekening    : No. 0028136247 BNI Cabang Perguruan Tinggi Bandung a.n. Ardian Perdana Putra