Mangkabi, Warisan Budaya Toraja yang Berada di Ambang Kepunahan

Mangkabi merupakan peninggalan budaya langka dari tanah Toraja

Tanpa banyak orang sadari, Toraja menyimpan warisan peradaban dunia yang tak ternilai harganya. Di daerah ini, berkembang sebuah teknik anyaman tali yang telah hilang dari kebudayaan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Seni kepang tali-temali kuno Toraja, dianggap sebagai salah satu peninggalan langka dalam khazanah kerajinan tangan dunia. Teknik yang dalam bahasa setempat disebut dengan Mangka’bi ini pun kini berada diambang kepunahan seiring pergantian generasi.

Secara singkat, Mangka’bi dapat dijabarkan sebagai suatu teknik kepang tali-temali yang di jari-jemari pembuatnya. Teknik langka ini mulai diangkat dalam ranah ilmiah oleh seorang Antropolog asal Jepang bernama Keiko Kusakabe [1] sekitar tahun 2005. Dalam penelitiannya, Kusakabe menemukan bahwa Mangka’bi memiliki keterkaitan dengan prosesi ritual keagamaan yang dilakukan warga setempat. Dalam seni olah tali-temali, Mangka’bi dikelompokkan sebagai teknik ‘Kepang Manipulasi Melingkar’ (‘loop manipulation braiding’ atau dikenal dengan istilah ‘L-M Braiding’).

Teknik ‘L-M Braiding’ sendiri adalah salah satu teknik tali-temali tradisional yang digunakan dalam pembuatan kerajinan tangan. Kekhasan dari ‘L-M Braiding’ dibandingkan teknik kepang lainnya adalah, tali yang digunakan berujung tertutup atau melingkar, sehingga proses pengepangan dilakukan dengan memindahkan posisi suatu lingkar tali melewati lingkaran tali yang lain (loop manipulation). Teknik ini mulai menjadi objek penelitian sejak awal abad ke-20, yang kemudian menyebar luas dengan sangat cepat. Salah satu temuan yang mengejutkan, teknik ini ternyata telah dikembangkan di berbagai belahan dunia sejak belasan abad sebelumnya.

Masako Kinoshita, salah satu pakar ‘L-M Braiding’ menyebutkan bahwa teknik ini juga ditemukan dalam masyarakat di berbagai belahan dunia, diantaranya Aljazair, Maroko, Oman, Bolivia, Peru, Swedia dan Thailand. Teknik mirip Mangka’bi ditemukan dalam manuskrip abad ke-17 M di Inggris dan dipercayai telah berkembang di Eropa sejak abad ke-15. Jauh sebelum itu, teknik yang sedikit berbeda yang disebut dengan ‘Kute Uchi’ ditemukan telah berkembang di Jepang sejak sebelum abad ke-7. Dalam penelitiannya, Kinoshita menyebutkan bahwa pewaris teknik ‘Kute Uchi’ terakhir meninggal di awal abad ke-20, seperti juga terjadi di sebagian tempat lainnya yang hanya menyisakan jejak dalam literatur.

Terdapat banyak variasi teknik dalam proses pembuatan Mangka’bi akan tetapi secara garis besar berbagai variasi yang ada merupakan kombinasi dan pengembangan dari teknik dasarnya. Secara garis besar, ada tiga teknik dasar dalam Mangka’bi, yaitu mangka’bi kalebu (persegi atau bulat), mangka’bi papipang (pipih) dan mangka’bi dipiak (kembar atau pecah dua). Dalam ketiga teknik ini, digunakan lima set tali melingkar (loop) yang jalin menggunakan tiga pasang jari tangan. Umumnya jari yang digunakan adalah telunjuk, jari tengah dan jari manis. Secara teknis, jalinan kepang ini dibuat dengan memindahkan posisi benang pada jari-jari sang pembuatnya.

Persiapan membuat Mangka'bi
Teknik kepang Mangka’bi hanya mengandalkan jemari tangan dan kaki pembuatnya, seperti diperagakan seorang fasilitator workshop di Museum Tekstil, Jakarta (22/9/2012)

Ada satu teknik lainnya yaitu ‘mangka’bi sitadoan’. Teknik ini ditemukan berkembang di wilayah Sa’dan yang terletak di sisi hulu sungai Sa’dan, Sulawesi Selatan. Teknik ini dikerjakan secara paralel oleh dua orang dengan menggunakan 9 set tali melingkar, dimana keduanya saling bertukar tali secara bergantian. Dalam penelitiannya, Kusakabe menemukan bahwa di wilayah Mamasa juga berkembang teknik yang mirip, tetapi menggunakan 10 set tali melingkar. Kusakabe juga menemukan bahwa terjadi pengembangan teknik yang sangat bervariasi di Sa’dan Toraja.

Kepangan yang dihasilkan dengan Mangka’bi dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai kerajinan tangan seperti ikat kepala, kantung sirih dan tas jinjing. Salah satu produk Mangka’bi yang berkaitan dengan ritual upacara keagamaan setempat adalah ‘pote’ atau tutup kepala yang digunakan pria dan wanita dalam upacara pemakaman. Mangka’bi juga ditemukan dalam pembuatan tali selempang dan ujung dari ‘Sepu Susu’ (kantung sirih) yang banyak digunakan oleh wanita setempat. Para pria Toraja umumnya menggunakan sarung untuk ‘labo’ (belati) yang dibuat dengan anyaman Mangka’bi. Selain itu, Mangka’bi juga digunakan untuk membuat ‘kapipe’, kantung untuk membawa nasi.

[1] ‘Braiding in Toraja‘, http://www.lmbric.net/n9/n9.html

[2] ‘KUTE-UCHI Basic Procedures‘, http://www.lmbric.net/ILh/ILh.html